Ini sebuah kisah nyata yang diposting oleh seseorang, dan meminta tidak di publikasikan nicknamenya ataupun emailnya.
Terkadang saya ingin bertanya bahkan “protes” pada Tuhan, kenapa ?
Bayangkan saja sudah berkali-kali saya melakukan usaha (bisnis) sekitar 4 tahun, saya selalu gagal melalu.. Padahal, saya melakukan sholat, puasa bahka sholat tahajud. Sholat Tahajud yang aku kerjakan semata-mata hanya minta ridho Allah semata, bukannya ingin supaya bisnisku lancar.
Tapi apa yg terjadi… semuanya gak pernah sesuai dengan yang diharapkan… semuanya tidak pernah terwujud, bahkan yang tersisa hanya kekecewaan belaka…
Baru-baru ini aku melakukan bisnis, kavling tanah yang akan dibeli oleh sebuah perusahaan terkemuka. Semula berjalan lancar baik dari negosiasi dengan pemilik tanah, maupun dengan calon pembeli. Saya sudah berharap sekali bahwa bisnis ini akan menjadi awal bagi kebangkitan bisnisku. Karena waktu-waktu yang lalu, aku selalu gagal. Aku pun berdoa dengan sungguh-sungguh, kepada Allah meminta agar bisnis ini berjalan lancar dan mudah. Dan aku niatkan juga hasil dari bisnis ini semata-mata untuk memberikan nafkah kepada anak dan isteriku. Bahwa aku telah niatkan keuntungan yang ada akan dizakatkan dulu.
Segala ketentuan hukum syariah, maupun ketentuan hukum yang berlaku, semuanya telah aku lakukan, termasuk kejujuran dan sebagainya.
Harapan yang begitu besar, betapa tidak setelah aku berulang kali gagal dalam bisnis, praktis, semua modalpun juga telah terkikis habis, hanya tinggal harapan inilah yang akan dijadikan modal awal untuk bisnis selanjutnya. Maklum saja, aku hidup di daerah (wilayah orang) dan tidak punya sanak famili untuk dijadikan tempat bertukar pendapat/pikiran ataupun berdiskusi. Meskipun aku sudah berkeluarga, tapi keluarga dari pihak isteri tidak pernah memberikan dukungan ataupun suport moril lebih-lebih material. Jelas sekali dalam melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri, dan Tuhan lah yang ku jadikan tempat aku curhat dan memohon….
Sungguh diluar dugaan sebelumnya, ketika hari H kesepakan transaksi pembayaran dengan pihak calon pembeli, secara tiba-tiba, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, membatalkan transaksi pembelian seluruh kavling tanah. Bisa dibayangkan betapa kecewanya aku, pupus sudah harapanku untuk bisa memulai bisnis baru, “ratusan juta melayang begitu saja”. Alasan pembatalan yang diberikannya pun tidak masuk aka. Tapi apa boleh buat, akupun tidak bisa memaksanya untuk membeli kaving tanah tsb. Tak pelak lagi akupun marah pada diri sendiri, kecewa bercampur aduk menjadi satu, bahkan kekewaanku sampai-sampai tidak bisa diukapkan dalam tulisan ini.
Betapa tidak kecewanya aku, aku sudah melakukan ikhtiar bisnis secara maksimal, segalanya telah aku lakukan, bahkan setiap saat aku selalu memohon kepada Tuhan agar bisnisku yang satu ini berhasil. Sudah tak terhitung berapa kali bibirku mengucapkan doa-doa itu kepada Tuhan. Disinilah, aku mulai bertanya kepada Tuhan, Tuhan kenapa, mengapa setiap kali aku berikhtiar melakukan bisnis, dan aku selalu memohon kepada Mu untuk keberhasilannya, tapi semuanya tidak pernah hasil. Boro-boro berhasil setengah dari yang diharapkan, ini malah tidak berhasil sama sekali. Kenapa Tuhan ? Apa yang salah dengan diriku? Apakah aku telah salah niat? Apakah dosa-dosaku? Sampai-samapi semua permohonan doa ku tak satupun yang Engkau kabulkan. Bukankah Engkau maha mengabulkan doa? Bukankah Engkau maha mendengar doa? Bukankah Engkau tidak pernah ingkar janji? Tolong jawab Tuhan ! Memang aku tidak bisa berkomunikasi langsung dengan Mu tapi aku hanya bisa memohon kepada Mu, tapi kenapa seolah-olah Engkau diam dan tak pernah peduli dengan ku. Seandainya saat ini Nabi Muhammad masih hidup tentu aku akan bertanya kepadanya tentang semua ini.
Tuhan aku binggung, bahkan aku gak percaya lagi pada Mu, karena aku sudah berdoa berulang kali, dan berikhtiar berulang kali, banyak waktu dan biaya terbuang sia-sia. Solah-olah semua yang aku lakukan tidak pernah berkenan dihadapanMu, padahal aku telah berusaha memenuhi perintahMu.
Mungkin bagi orang yang membaca tulisan ini, akan menyalahkan ku, memojokkan ku, bahwa menilai aku ini bodoh, kafir dan sebagainya. Tapi andaisaja orang yang membaca tulisan ini berada pada posisiku niscaya ia akan bisa memahaminya. Mungkin tulisan ini tidak bisa menggambarkan secara keseluruhan keadaanku, perasaanku, yang sebenarnya. Karena aku kesulitan untuk mengukapkan gambaran keadaanku yang sebenarnya melalui tulisan.
Kemudian, aku mencoba bertanya kepada seorang teman, ketika saya mengatakan saya gak percaya dengan Tuhan, ia terkejut, dan berkata “isthifar-lah”. Tuhan tidak begitu, kamu bisa syirik, begitu katannya. Aku tidak mensekutakan Tuhan kok, Cuma aku gak percaya doang, karena aku merasa semua doa-doaku dan ikhtiarku yg berkaitan dengan Finansial seolah-olah tertutup dan gak pernah di beri sama Tuhan, ujarku. Dengar ya, kata temanku lagi, kalo kamu menganggap Tuhan gak bisa dipercaya, berarti kamu telah ingkar akan keberadaan Tuhan. Seandainya kamu mati, sekarang, kamu mati dalam keadaan kafir. Maka cepatlah bertobat dan ber isthifar , mohon ampun lah kepada NYA.
Lama aku berdiskusi dengan temanku tadi, bahkan dia memberikan peluang-peluang bisnis, meski peluang bisnis yang di utarakan oleh temanku tadi belum sesuai dengan keinginanku, tapi aku sedikit tertarik, dengan profit yang bisa dicapainya, dan masih perlu di kaji lagi.
Sepulang diskusi dengan temanku, aku mencoba berpikir sendiri, ada benarnya kata temanku tadi kalo aku mati, dalam keadaan ingkar kepada Tuhan, niscaya aku mati dalam keadaan Kafir. Aku tidak mau begitu, kemudian akupun mencoba membuka internet, mencari kalimat-kalimat yang bisa menjawab segala “unek-unek”/ segala pertanyaanku kepada Tuhan. Mengapa Tuhan Seolah-olah membiarkanku, bahkan seolah-olah janjiNYA tidak bisa dipercaya lagi.
Ketika aku mulai membuka search google aku menemukan sebuah situs, yang sangat menarik bagiku, disitu ditulis mengenai :
“Cara untuk mengetahuinya sangat mudah: dalam keadaan suci jasmani, dengan hati dan pikiran yang bening pusatkan diri kita kepada Allah. Maka apa yang nampak dalam hati dan pikiran itulah Allah menurut persepsi Anda. Maka terhadap apa yang nampak itu perlu dipertanyakan, apakah itu benar-benar Allah.
Jika saat itu yang nampak adalah salah satu di antara di bawah ini :
– Sesuatu yang dibayangkan sebagai Allah, baik berupa sinar, huruf, gambar dan sebagainya
– Sesuatu yang kehadirannya dapat dirasakan oleh panca indera
– Gambaran sebuah sosok yang memiliki sifat asmaul husna
Dipastikan semuanya bukan Allah, sebab Allah adalah Dzat yang tidak bisa dibayangkan keberadaanNya, tidak ada sesuatu pun yang menyerupaiNya. KeberadaanNya tidak bisa dirasakan oleh panca indera.
“Terbukalah kenyataan bahwa sejatinya iman mereka adalah iman kepada nama, siafat atau perbuatanNya Allah yang tidak ada dan tidak bisa berbuat apa-apa, bukan kepada dzat Yang Bernama Allah Yang Segala Maha. Logislah jika seluruh janji Allah tidak menjadi kenyataan.”
Bait terakhir “Logislah jika seluruh janji Allah tidak menjadi kenyataan” kalimat inilah yang kemudian membekas dalam pikiranku. “Jadi selama ini aku telah salah dalam berdoa, dalam beribadah. Aku terlalu fokus kepada nama-nama Allah, dan kekuasaan Allah (perbuatan Allah). Dan aku masih menfokuskan sesuatu yang aku anggap sebagai Allah”. Pantas saja doa-doaku tidak pernah dikabulkanNYA.
Jadi disinilah letak kesalahanku, sekarang aku mulai sedikit demi sedikit membangun keyakinanku lagi kepada Allah, suatu Dzat yang tidak akan pernah aku bayangkan dan aku persepsikan seperti apa keberadaanNYA. Aku sadar aku telah berbuat dosa, dengan memprotes Tuhan, bahkan mengumpatNYA. Aku hanya bisa berharap semoga Allah mau mengampuniku.
NB: Seandainya pembaca yang berkenan memberikan pendapat & saran mengenai kisah tersebut, mohon di tulis di kolom komentar atau bisa melalui email admin.
Email:peacelah@gmail.com