Sering kali kita mendengar orang berkeluh kesah, merasa tidak mampu melakukan suatu pekerjaan, padahal kalo dilihat secara kasat mata, sebenarnya orang tersebut mampu untuk melakukan pekerjaan tersebut.
Seorang karyawan bagian marketing sebuah perusahaan yang telah bekerja bertahun-tahun, tiba-tiba mengeluh karena ia diberi beban target penjualan. Ia merasa tidak mampu melaksanakan tugasnya tersebut, bahkan ia merasakan beban kerja yang sekarang ini semakin berat, meskipun perusahaan juga memberikan kompensasi yang sebanding dengan pekerjaannya.
Mengapa ia merasa seolah-olah ada beban yang begitu berat dipundaknya? Dan mengapa ia merasakan seoalah-olah ia tidak akan mampu melaksanakan pekerjaanya yg sekarang ?
Penyebabnya adalah ia sudah berpikir yang negative terhadap pekerjaan yang akan dilakukan. Pikiran negative tersebut adalah ia merasakan “ada beban”, dan merasa “tidak mampu” untuk melaksanakan pekerjaan tersebut. Munculnya pikiran negative tersebut telah menutup segala kemampuan dan keahlian yang dimilikinya selama ini. Ia lupa bahwa selama ini telah mampu melaksanakan pekerjaan yang telah diberikan oleh perusahaannya, sehingga perusahaan memberikan beban yang lebih menantang lagi dengan kompensasi yang sesuai dengan pekerjaan tersebut.
Segala potensi, keahlian, serta segudang pengalaman, yang ada dalam diri seorang marketing tersebut, “tertutup” seolah-olah telah musnah, hanya karena ia “mengeluh” tidak mampu lagi melaksanakan perkerjaanya. Pikiran negatif inilah yang membuat ia tidak lagi “percaya diri” , semangatnya redup dan pada jangka waktu yang lama akan menimbulkan “putus asa” terhadap apa yang pekerjaanya.
Awal ketidak percayaan diri itu timbul karena kita mulai “mengeluhkan” terhadap sesuatu. Rasa mengeluh ini berakibat menurunkan semangat untuk melakukan aktivitas, yang berujung kepada “perasaan malas” untuk beraktivitas. Dan akibatnya segala potensi yang dimiliki pada diri sendiri seolah-olah sirna.
Andai saja karyawan tadi, mau untuk berpikir positif (Khusnudhon) dan punya kemauan untuk menuliskan potensi-potensi yang dimilikinya seperti :
- pengalaman kerja, yang sudah matang.
- Relasi yang luas.
- Pengetahuan cukup luas, dibidang marketing, serta segudang potensi lainnya.
Dan andai saja ia tidak mencoba ber-pikir negatif tentu saja ia tidak akan terjerumus ke dalam persolan inferioritas.
Kebanyakan siswa mengalami kesulitan belajar pelajaran matematika. Padahal sebenarnya ia mampu untuk memahami pelajaran tersebut. Mengapa demikian? Karena pelajaran Matematika adalah pelajaran yang bersifat logika, dan cara yang paling efisien untuk menguasinya adalah dengan melakukan banyak latihan soal. Namun apa yang terjadi? Kebanyakan siswa sudah mengklaim bahwa pelajaran Matematika adalah pelajaran yang paling sulit, dan pelajaran yang susah untuk dikuasinya. Siswa-siswa tersebut telah berfikir negatif, yaitu sulit, sudah, malas, dan sebagainya.
Tetapi siswa-siswa tersebut kurang terlatih untuk berpikir, bahwa “saya bisa menguasai matematika” , atau dengan berpikir “matematika adalah pelajaran yang menyenangkan”.
Begitulah kira-kira kalimat Percaya Diri mudah diucapkan, namun dalam mempraktekannya dibutuhkan latihan pengendalian pikiran, agar bisa meningkatkan “Kepercayaan Diri”.