Feeds:
Posts
Comments

Putus Asa ?

Mendengar kalimat putus asa, telinga kita seolah-olah risih, jenuh dan sebagainya.
Setiap orang kemungkinan besar pernah merasakan putus asa, atau pun kecewa terhadap apa di inginkannya. Umumnya ketika seseorang sedang dilanda putus asa, biasanya mereka mengkambing hitamkan Allah sebagai penyebab utama keputusa asa-anya.
Seseorang yang sedang melakukan suatu bisnis, dan telah dirancang sedemikian rupa, bahkan telah menggunakan analisa sensitivistas sebagai tolok ukur tingkat risiko yang ditimbulkannya. Bahkan untuk mendukung usahanya tersebut ia rajin melakukan ibadah, sholat tahajud, dan ibadah lainnya, dengan harapan agar Allah memberikan kemudahan dan kelancaran bisnisnya.

Dalam awal-awal pelaksanaanya bisnis yang telah rencanakan tersebut sudah dapat berjalan, namun seiring perjalanan waktu, bisnis tersebut mengalami berbagai kendala, yang tidak pernah diprediksikan sebelumnya. Berbagai kendala tersebut, akhirnya menumpuk dan persoalan-persoalan yang timbul di dalamnya semakin sulit untuk dicarikan solusinya, seandainya ada solusinya memerlukan kost yang tinggi. Dan akhirnya bisnis tersebut gulung tikar. Si pemilik bisnis, ini lantas kecewa dan putus asa, ia merasa seolah-olah Allah tidak pernah memberikan ridhoNYA dalam bisnis yang dijalankannya. Seolah-olah Allah tidak pernah memberikan pertolongan ketika ia membutuhkan-NYA. Intinya ia kemudian menyalahkan Allah sebagai penyebab kegagalan bisnisnya. Menyalahkan Allah karena Allah tidak mau memberikan pertolonganNYA, tidak mau memberikan kemudahan dan kesuksesan bisnisnya.

“Kenapa Allah seolah-olah tidak mau memberikan kesuksesan pada diriku”, kata orang tersebut. Padahal aku telah berusaha mendekatkan diri kepada NYA, aku telah beribadah semaksimal mungkin, aku telah melakukan sholat Tahajud di tengah malam, aku telah berdoa berulang kali, memohon kepada NYA agar sukses dalam bisnis yang sedang dijalankanya. Kenapa Allah tidak mencatat semua itu sebagai kebaikan, sehingga dalam bisnis ini Allah tidak pernah memberikan pertolongannya, begitu ungkapnya.
Padalah seandainya saja Allah menolongku niscaya aku tidak akan mengalami kerugian, tidak mengalami kesulitan seperti sekarang ini, begitu lanjutnya. Sekarang aku tidak akan percaya lagi kepada Allah, bahkan ia mengatakan, “Allah tidak menepati janjinya”.

Dalam kasus diatas, orang tersebut telah berputus asa terhadap Allah, ia telah menganggap Allah tidak pernah menolongnya dan anggapan lainnya.
Benarkah Allah Tidak Menolong Kita ?.
Mari kita lihat diri kita sendiri…
Apakah selama ini kita telah mengenal Allah, ?
Apakah Allah yang kita prasangkakan itu benar-benar Dzat Allah Yang Maha Segala Maha.?
Dan apakah kita telah benar-benar memohon kepada Dzat Allah yang memiliki nama dan sifat yang sempurna?
Dan apakah masih ada KeRagu-Raguan dalam diri kita meskipun sedikit saja, terhadap Allah?

Untuk mengenal Allah, kita harus memahami bahwa Allah adalah nama Dzat yang Maha Sempurna, yang hakekat Dzat NYA tidak dapat di cerna melalui panca indera. Dzat Alloh memiliki Nama dan Sifat yang Maha Sempurna yang tercermin dalam segala Makhluk CiptaanNYA (Af’alulloh).
Salah satu nama Alloh adalah Ar-Rohman (Yang Maha Pengasih) yang juga sekaligus salah satu Sifat Allah Kasih Sayang tercermin dalam setiap MaklukNYA. Allah selalu memberikan RahmatNYA kepada seluruh makhluk ciptaanNYA tanpa pandang bulu, tidak ada diskriminasi, semua adil merata, mendapat Rahmat Allah.

Nah timbul pertanyaan dalam diri kita, apakah selama ini kita pernah menvisualisasikan keberadaan Allah. Ataukah… pernahkan kita merasa bahwa Allah berada di suatu tempat tertentu yg sangat mulia.? Atau Pernahkah kita memproyeksikan Nama dan Sifat-NYA?
Atau Dalam berdoa kita bersandar kepada Nama dan Sifat Allah?
Jika jawabanya Ya, semua itu pernah saya lakukan.. Dapat dipastikan kita telah salah…mengenal Allah. Mengapa ? Karena Nama dan Sifat Allah tidaklah sama dengan Dzat Allah. Yg harus kita Sembah dan dijadikan tempat meminta adalah Dzat Allah yang Maha Segala Maha. Yang tidak bisa di proyeksikan melalui panca indera. Hanya bisa dirasakan dalam Qolbu (hati paling kecil). ArRahman adalah nama sekaligus sifat Allah. Tapi ArRahman bukanlah Dzat Allah, hanya bagian dari sifat-sifat dan nama Allah.
Jadi kalo kita berdoa bukan kepada Dzat Allah, pantas saja doa kita tidak cepat dikabulkanNYA.
Selain itu apakah dalam diri kita masih ada keragu-raguan terhadap Dzat Allah yang Maha Segala Maha yang meliputi Asma-AsmaNYA dan Sifat-SifatNYA dan tercermin pada seluruh hasil CiptaanNYA baik yang ada di dunia maupun di akhirat.
Allah itu Maha Sempurna (subhanallah) meliputi seluruh firman-firmanNYA. Allah tidak pernah mengingkari janji-janjinya. Sungguh mustahil kalau Allah beringkar janji.
Friman Allah, “Mintalah kepada Ku niscaya akan Aku Kabulkan “. Terkabulnya suatu doa salah satunya juga ditentukan oleh ketiadaan rasa Ragu-ragu dalam diri orang yang berdoa. Intinya orang yang berdoa harus meyakini seribu persen bahwa doanya pasti akan dikabulkan. Firman Allah, “Sesungguhnya AKU ini dekat, lebih dekat dari urat Leher”. “Jadi apapun yang tersembunyi didalam hati ataupun yang terucap, Sudah dapat dipastikan Allah itu Mengetahui”

Jadi Kesimpulannya kenapa orang berputus asa terhadap Rahmat Allah? Karena orang tersebut Memiliki Keragu-raguan dalam dirinya sendiri. Keraguan ini menimbulkan rasa kekawatiran dan ketakutan dalam dirinya sendiri. Ketakutan untuk menghadapi Kenyataan yang ada. Andai saja Ia mau berpikir jernih sedikit saja, berfikir tentang Rahmat Allah yang selalu terbuka untuk setiap makluknya, niscaya rasa putus asa itu tentu tidak akan pernah ada. Hanya ada satu kata untuk bisa tetap tegar menghadapi Kenyataan yang ada, yaitu dengan YAKIN Sepenuhnya Terhadap Allah, Dzat yang Maha Segala Maha. “Sesungguhnya Tuhanmu tidak membecimu dan tidak pula meninggalkanmu”

Wallohua’lam bishowab

Ini sebuah kisah nyata yang diposting oleh seseorang, dan meminta tidak di publikasikan nicknamenya ataupun emailnya.

Terkadang saya ingin bertanya bahkan “protes” pada Tuhan, kenapa ?

Bayangkan saja sudah berkali-kali saya melakukan usaha (bisnis) sekitar 4 tahun, saya selalu gagal melalu.. Padahal, saya melakukan sholat, puasa bahka sholat tahajud. Sholat Tahajud yang aku kerjakan semata-mata hanya minta ridho Allah semata, bukannya ingin supaya bisnisku lancar.

Tapi apa yg terjadi… semuanya gak pernah sesuai dengan yang diharapkan… semuanya tidak pernah terwujud, bahkan yang tersisa hanya kekecewaan belaka…
Baru-baru ini aku melakukan bisnis, kavling tanah yang akan dibeli oleh sebuah perusahaan terkemuka. Semula berjalan lancar baik dari negosiasi dengan pemilik tanah, maupun dengan calon pembeli. Saya sudah berharap sekali bahwa bisnis ini akan menjadi awal bagi kebangkitan bisnisku. Karena waktu-waktu yang lalu, aku selalu gagal. Aku pun berdoa dengan sungguh-sungguh, kepada Allah meminta agar bisnis ini berjalan lancar dan mudah. Dan aku niatkan juga hasil dari bisnis ini semata-mata untuk memberikan nafkah kepada anak dan isteriku. Bahwa aku telah niatkan keuntungan yang ada akan dizakatkan dulu.
Segala ketentuan hukum syariah, maupun ketentuan hukum yang berlaku, semuanya telah aku lakukan, termasuk kejujuran dan sebagainya.

Harapan yang begitu besar, betapa tidak setelah aku berulang kali gagal dalam bisnis, praktis, semua modalpun juga telah terkikis habis, hanya tinggal harapan inilah yang akan dijadikan modal awal untuk bisnis selanjutnya. Maklum saja, aku hidup di daerah (wilayah orang) dan tidak punya sanak famili untuk dijadikan tempat bertukar pendapat/pikiran ataupun berdiskusi. Meskipun aku sudah berkeluarga, tapi keluarga dari pihak isteri tidak pernah memberikan dukungan ataupun suport moril lebih-lebih material. Jelas sekali dalam melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri, dan Tuhan lah yang ku jadikan tempat aku curhat dan memohon….

Sungguh diluar dugaan sebelumnya, ketika hari H kesepakan transaksi pembayaran dengan pihak calon pembeli, secara tiba-tiba, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, membatalkan transaksi pembelian seluruh kavling tanah. Bisa dibayangkan betapa kecewanya aku, pupus sudah harapanku untuk bisa memulai bisnis baru, “ratusan juta melayang begitu saja”. Alasan pembatalan yang diberikannya pun tidak masuk aka. Tapi apa boleh buat, akupun tidak bisa memaksanya untuk membeli kaving tanah tsb. Tak pelak lagi akupun marah pada diri sendiri, kecewa bercampur aduk menjadi satu, bahkan kekewaanku sampai-sampai tidak bisa diukapkan dalam tulisan ini.

Betapa tidak kecewanya aku, aku sudah melakukan ikhtiar bisnis secara maksimal, segalanya telah aku lakukan, bahkan setiap saat aku selalu memohon kepada Tuhan agar bisnisku yang satu ini berhasil. Sudah tak terhitung berapa kali bibirku mengucapkan doa-doa itu kepada Tuhan. Disinilah, aku mulai bertanya kepada Tuhan, Tuhan kenapa, mengapa setiap kali aku berikhtiar melakukan bisnis, dan aku selalu memohon kepada Mu untuk keberhasilannya, tapi semuanya tidak pernah hasil. Boro-boro berhasil setengah dari yang diharapkan, ini malah tidak berhasil sama sekali. Kenapa Tuhan ? Apa yang salah dengan diriku? Apakah aku telah salah niat? Apakah dosa-dosaku? Sampai-samapi semua permohonan doa ku tak satupun yang Engkau kabulkan. Bukankah Engkau maha mengabulkan doa? Bukankah Engkau maha mendengar doa? Bukankah Engkau tidak pernah ingkar janji? Tolong jawab Tuhan ! Memang aku tidak bisa berkomunikasi langsung dengan Mu tapi aku hanya bisa memohon kepada Mu, tapi kenapa seolah-olah Engkau diam dan tak pernah peduli dengan ku. Seandainya saat ini Nabi Muhammad masih hidup tentu aku akan bertanya kepadanya tentang semua ini.

Tuhan aku binggung, bahkan aku gak percaya lagi pada Mu, karena aku sudah berdoa berulang kali, dan berikhtiar berulang kali, banyak waktu dan biaya terbuang sia-sia. Solah-olah semua yang aku lakukan tidak pernah berkenan dihadapanMu, padahal aku telah berusaha memenuhi perintahMu.

Mungkin bagi orang yang membaca tulisan ini, akan menyalahkan ku, memojokkan ku, bahwa menilai aku ini bodoh, kafir dan sebagainya. Tapi andaisaja orang yang membaca tulisan ini berada pada posisiku niscaya ia akan bisa memahaminya. Mungkin tulisan ini tidak bisa menggambarkan secara keseluruhan keadaanku, perasaanku, yang sebenarnya. Karena aku kesulitan untuk mengukapkan gambaran keadaanku yang sebenarnya melalui tulisan.

Kemudian, aku mencoba bertanya kepada seorang teman, ketika saya mengatakan saya gak percaya dengan Tuhan, ia terkejut, dan berkata “isthifar-lah”. Tuhan tidak begitu, kamu bisa syirik, begitu katannya. Aku tidak mensekutakan Tuhan kok, Cuma aku gak percaya doang, karena aku merasa semua doa-doaku dan ikhtiarku yg berkaitan dengan Finansial seolah-olah tertutup dan gak pernah di beri sama Tuhan, ujarku. Dengar ya, kata temanku lagi, kalo kamu menganggap Tuhan gak bisa dipercaya, berarti kamu telah ingkar akan keberadaan Tuhan. Seandainya kamu mati, sekarang, kamu mati dalam keadaan kafir. Maka cepatlah bertobat dan ber isthifar , mohon ampun lah kepada NYA.

Lama aku berdiskusi dengan temanku tadi, bahkan dia memberikan peluang-peluang bisnis, meski peluang bisnis yang di utarakan oleh temanku tadi belum sesuai dengan keinginanku, tapi aku sedikit tertarik, dengan profit yang bisa dicapainya, dan masih perlu di kaji lagi.

Sepulang diskusi dengan temanku, aku mencoba berpikir sendiri, ada benarnya kata temanku tadi kalo aku mati, dalam keadaan ingkar kepada Tuhan, niscaya aku mati dalam keadaan Kafir. Aku tidak mau begitu, kemudian akupun mencoba membuka internet, mencari kalimat-kalimat yang bisa menjawab segala “unek-unek”/ segala pertanyaanku kepada Tuhan. Mengapa Tuhan Seolah-olah membiarkanku, bahkan seolah-olah janjiNYA tidak bisa dipercaya lagi.

Ketika aku mulai membuka search google aku menemukan sebuah situs, yang sangat menarik bagiku, disitu ditulis mengenai :

“Cara untuk mengetahuinya sangat mudah: dalam keadaan suci jasmani, dengan hati dan pikiran yang bening pusatkan diri kita kepada Allah. Maka apa yang nampak dalam hati dan pikiran itulah Allah menurut persepsi Anda. Maka terhadap apa yang nampak itu perlu dipertanyakan, apakah itu benar-benar Allah.

Jika saat itu yang nampak adalah salah satu di antara di bawah ini :
– Sesuatu yang dibayangkan sebagai Allah, baik berupa sinar, huruf, gambar dan sebagainya
– Sesuatu yang kehadirannya dapat dirasakan oleh panca indera
– Gambaran sebuah sosok yang memiliki sifat asmaul husna

Dipastikan semuanya bukan Allah, sebab Allah adalah Dzat yang tidak bisa dibayangkan keberadaanNya, tidak ada sesuatu pun yang menyerupaiNya. KeberadaanNya tidak bisa dirasakan oleh panca indera.

“Terbukalah kenyataan bahwa sejatinya iman mereka adalah iman kepada nama, siafat atau perbuatanNya Allah yang tidak ada dan tidak bisa berbuat apa-apa, bukan kepada dzat Yang Bernama Allah Yang Segala Maha. Logislah jika seluruh janji Allah tidak menjadi kenyataan.”

Bait terakhir “Logislah jika seluruh janji Allah tidak menjadi kenyataan” kalimat inilah yang kemudian membekas dalam pikiranku. “Jadi selama ini aku telah salah dalam berdoa, dalam beribadah. Aku terlalu fokus kepada nama-nama Allah, dan kekuasaan Allah (perbuatan Allah). Dan aku masih menfokuskan sesuatu yang aku anggap sebagai Allah”. Pantas saja doa-doaku tidak pernah dikabulkanNYA.

Jadi disinilah letak kesalahanku, sekarang aku mulai sedikit demi sedikit membangun keyakinanku lagi kepada Allah, suatu Dzat yang tidak akan pernah aku bayangkan dan aku persepsikan seperti apa keberadaanNYA. Aku sadar aku telah berbuat dosa, dengan memprotes Tuhan, bahkan mengumpatNYA. Aku hanya bisa berharap semoga Allah mau mengampuniku.

NB: Seandainya pembaca yang berkenan memberikan pendapat & saran mengenai kisah tersebut, mohon di tulis di kolom komentar atau bisa melalui email admin.

Email:peacelah@gmail.com

Mengapa kita harus berlatih untuk berpikir positif ?. Karena pola pikir seseorang itu dipengaruhi oleh kebiasaan yang dilakukan oleh yang bersangkutan terbut. Kebiasaan-kebiasaan yang mengalir begitu saja setiap hari jelas akan mempengaruhi cara ia bertindak dan cara ia menyikapi suatu persoalan yang ada. Kebiasaan itu dipengaruhi oleh unsur internal yang bersumber dari dalam diri sendiri dan unsur eksternal yang bersumber dari lingkungan sekitarnya. (kondisi keluarga, lingkungan tempat tinggal dsb).

Seseorang berkata, “Saya sudah mencoba untuk berpikir positif terhadap sesuatu hal”. Tapi saya tidak bisa melakukannya, karena persoalan yang saya hadapi itu terlalu besar dan terlalu kompleks.” Dalam kasus ini, orang tersebut diibaratkan sudah mulai membuka jalan yaitu ketika ia mulai mencoba untuk berpikir positif terhadap masalah yg dihadapinya. Namun tanpa disadari ia juga telah menutup jalannya sendiri yaitu ketika ia mengatakan “masalah yang aku hadapi ini terlalu besar dan kompleks”. Memang seseorang mengganggap kecil suatu masalah, tapi masalah tsb bisa dianggap besar oleh orang lain. Demikian juga sebaliknya.

Namun apapun masalahnya, sebenarnya pasti ada jalan keluarnya. “Setelah Kesulitan itu pasti ada Kemudahan”. Firman Allah itu mengisyaratkan bahwa manusia diharuskan untuk selalu perfikir positif terhadap suatu persoalan. Hanya saja sebagian orang selalu merasa ragu-ragu, untuk meyakininya. Perasaan ragu-ragu inilah yang menghambat seseorang untuk menerima suatu kekuatan positif yang bersumber dari kekuatan yang Maha Kuasa.

Kunci utama seseorang dapat terus konsisten untuk berfikir positif adalah dengan bersandar kepada Tuhan, karena hanya DIA-lah yang memiliki kekuasaan yang maha dasyat yang tidak akan pernah luntur dan tidak akan goyah terhadap sesuatu apapun.

Lalu bagaimana kita dapat bersandar kepada Allah ? cara yang paling mudah adalah dengan MeyakiniNYA. Ya hanya dengan Yakin itulah kita bisa bersandar kepada Allah.
Langkah yang paling sederhana untuk bisa Yakin kepada Allah adalah dengan menuliskan kalimat seperti ini : “ Aku Yakin Allah bersamaku, Allah pasti akan menolongnya”. Tulis kalimat itu diatas kerta, dan setiap hari dibaca perlahan-lahan, dan dilakukan secara konsisten, niscaya secara perlahan-lahan

Firman Allah, “ … jika mereka bertanya kepada KU katakanlah sesungguhnya AKU ini dekat, AKU mengabulkan Doa hambaKu…… “ Dengan menyandarkan diri kepada Tuhan, kita akan memperoleh “Semangat baru” dalam menyelesaikan persoalan yang ada.

Sebuah kisah nyata, seseorang karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan keuangan. Ia termasuk salah satu orang yang memiliki prestasi yang luar biasa diperusahaan tersebut. Suatu ketika pada saat akan ada pergantian salah Direksi, ia disebut-sebut termasuk orang yang dinominasikan untuk menjadi Direksi. Setelah melalui uji kelayakan, dari 5 orang yang mengikuti tinggal 2 orang yang lolos seleksi, dan ia salah satunya. Dan persaingan untuk calon Direksi hanya 2 orang. Teman-temannya banyak yang menyarankan bahwa ia harus melakukan lobi-lobi kepada orang tertentu untuk memuluskan jalan menjadi Direksi. Namun ia tidak melakukannya, alasannya karena jika ia melakukan lobi-lobi ke orang tertentu, ia akan memberikan suatu kontribusi yang sebanding kepada orang tersebut. Ia hanya berfikir sederhana, yaitu “saya sudah berusaha memenuhi segala ketentuan yang berlaku, dari sisi kemampuan dan pengalaman bekerja saya sudah memenuhi persyaratan, dan sekarang saya menyerahkan semua persoalan ini kepada Allah, saya mohon kepada Allah untuk diberikan yang terbaik bagi saya”. Karyawan tersebut telah menyerahkan persoalannya kepada Tuhan dan meminta penyelesaian yang terbaik. Karyawan tersebut berfikir bahwa Tuhan akan memberikan sesuatu yang terbaik baginya.

Sementara itu rivalnya, melakukan lobi-lobi kepada orang-orang penting, yang dapat mempengaruhi keputusan dalam pengangkatan Direksi perusahaan Keuangan tersebut. Sampai pada akhirnya, rivalnya inilah yang dipilih untuk menjadi penganti salah satu Direksi diperusahaan tersebut.

Namun apa daya ketika SK pengangkatan Direksi tersebut akan di tanda-tangani, secara Tim Seleksi Calon Direksi tersebut, mengadakan rapat mendadak, yang mempersoalkan calon yang akan duduk menjadi Direksi. Setelah dilakukan pengkajian pertimbangan yang matang akhirnya, diputuskanlah bahwa Karyawan yang tidak melakukan lobi-lobi itulah yang diangkat menjadi Direksi.

Dari kisah tersebut diatas, si karyawan yang telah menyandarkan persoalanya kepada Allah, berarti ia telah menyerahkan persoalan tersebut, kepada Allah, dan ia Meyakini Tuhan pasti memberikan jalan keluarnya yang terbaik. Ia telah berfikir positif untuk mencari jalan keluar dari persoalannya tersebut.

Tip and trik untuk melatih berpikir positif :
- Menyakini Allah akan memberikan pertolongan dan memberikan jalan penyelesaian yang terbaik bagi masalah yang kita hadapi.
Caranya sederhana untuk bisa Yakin kepada Tuhan, yaitu dengan menulis disebuah kertas, kalimat seperti ini “Allah dekat bersamaku, Allah pasti menolongku. Kerta tersebut dibaca berulang-ulang setiap harinya.

- Menuliskan potensi yang dimiliki di atas kertas secara jelas, dan dibaca potensi yang dimiliki, jangan pernah menuliskan kalimat-kalimat negatif.
Contoh potensi : aku memiliki badan yang sehat, aku punya rumah untuk tempat tinggal, aku memiliki kawan-kawan yang mendukungku, dan potensi-potensi lainnya.
Jangan pernah kita menuliskan kalimat seperti ini : aku punya rumah meskipun rumah kontrakan. Kalimat “……meskipun rumah kontrakan” ini akan menjadi penghalang semangat kita, bahkan bisa memunculkan rasa ragu-ragu.

- Harus tetap semangat untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada.

Wallohu ‘alam bishawab

Email: peacelah@gmail.com

“Percaya Diri”

Sering kali kita mendengar orang berkeluh kesah, merasa tidak mampu melakukan suatu pekerjaan, padahal kalo dilihat secara kasat mata, sebenarnya orang tersebut mampu untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Seorang karyawan bagian marketing sebuah perusahaan yang telah bekerja bertahun-tahun, tiba-tiba mengeluh karena ia diberi beban target penjualan. Ia merasa tidak mampu melaksanakan tugasnya tersebut, bahkan ia merasakan beban kerja yang sekarang ini semakin berat, meskipun perusahaan juga memberikan kompensasi yang sebanding dengan pekerjaannya.

Mengapa ia merasa seolah-olah ada beban yang begitu berat dipundaknya? Dan mengapa ia merasakan seoalah-olah ia tidak akan mampu melaksanakan pekerjaanya yg sekarang ?

Penyebabnya adalah ia sudah berpikir yang negative terhadap pekerjaan yang akan dilakukan. Pikiran negative tersebut adalah ia merasakan “ada beban”, dan merasa “tidak mampu” untuk melaksanakan pekerjaan tersebut. Munculnya pikiran negative tersebut telah menutup segala kemampuan dan keahlian yang dimilikinya selama ini. Ia lupa bahwa selama ini telah mampu melaksanakan pekerjaan yang telah diberikan oleh perusahaannya, sehingga perusahaan memberikan beban yang lebih menantang lagi dengan kompensasi yang sesuai dengan pekerjaan tersebut.

Segala potensi, keahlian, serta segudang pengalaman, yang ada dalam diri seorang marketing tersebut, “tertutup” seolah-olah telah musnah, hanya karena ia “mengeluh” tidak mampu lagi melaksanakan perkerjaanya. Pikiran negatif inilah yang membuat ia tidak lagi “percaya diri” , semangatnya redup dan pada jangka waktu yang lama akan menimbulkan “putus asa” terhadap apa yang pekerjaanya.

Awal ketidak percayaan diri itu timbul karena kita mulai “mengeluhkan” terhadap sesuatu. Rasa mengeluh ini berakibat menurunkan semangat untuk melakukan aktivitas, yang berujung kepada “perasaan malas” untuk beraktivitas. Dan akibatnya segala potensi yang dimiliki pada diri sendiri seolah-olah sirna.

Andai saja karyawan tadi, mau untuk berpikir positif (Khusnudhon) dan punya kemauan untuk menuliskan potensi-potensi yang dimilikinya seperti :
- pengalaman kerja, yang sudah matang.
- Relasi yang luas.
- Pengetahuan cukup luas, dibidang marketing, serta segudang potensi lainnya.
Dan andai saja ia tidak mencoba ber-pikir negatif tentu saja ia tidak akan terjerumus ke dalam persolan inferioritas.

Kebanyakan siswa mengalami kesulitan belajar pelajaran matematika. Padahal sebenarnya ia mampu untuk memahami pelajaran tersebut. Mengapa demikian? Karena pelajaran Matematika adalah pelajaran yang bersifat logika, dan cara yang paling efisien untuk menguasinya adalah dengan melakukan banyak latihan soal. Namun apa yang terjadi? Kebanyakan siswa sudah mengklaim bahwa pelajaran Matematika adalah pelajaran yang paling sulit, dan pelajaran yang susah untuk dikuasinya. Siswa-siswa tersebut telah berfikir negatif, yaitu sulit, sudah, malas, dan sebagainya.
Tetapi siswa-siswa tersebut kurang terlatih untuk berpikir, bahwa “saya bisa menguasai matematika” , atau dengan berpikir “matematika adalah pelajaran yang menyenangkan”.

Begitulah kira-kira kalimat Percaya Diri mudah diucapkan, namun dalam mempraktekannya dibutuhkan latihan pengendalian pikiran, agar bisa meningkatkan “Kepercayaan Diri”.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.