Mendengar kalimat putus asa, telinga kita seolah-olah risih, jenuh dan sebagainya.
Setiap orang kemungkinan besar pernah merasakan putus asa, atau pun kecewa terhadap apa di inginkannya. Umumnya ketika seseorang sedang dilanda putus asa, biasanya mereka mengkambing hitamkan Allah sebagai penyebab utama keputusa asa-anya.
Seseorang yang sedang melakukan suatu bisnis, dan telah dirancang sedemikian rupa, bahkan telah menggunakan analisa sensitivistas sebagai tolok ukur tingkat risiko yang ditimbulkannya. Bahkan untuk mendukung usahanya tersebut ia rajin melakukan ibadah, sholat tahajud, dan ibadah lainnya, dengan harapan agar Allah memberikan kemudahan dan kelancaran bisnisnya.
Dalam awal-awal pelaksanaanya bisnis yang telah rencanakan tersebut sudah dapat berjalan, namun seiring perjalanan waktu, bisnis tersebut mengalami berbagai kendala, yang tidak pernah diprediksikan sebelumnya. Berbagai kendala tersebut, akhirnya menumpuk dan persoalan-persoalan yang timbul di dalamnya semakin sulit untuk dicarikan solusinya, seandainya ada solusinya memerlukan kost yang tinggi. Dan akhirnya bisnis tersebut gulung tikar. Si pemilik bisnis, ini lantas kecewa dan putus asa, ia merasa seolah-olah Allah tidak pernah memberikan ridhoNYA dalam bisnis yang dijalankannya. Seolah-olah Allah tidak pernah memberikan pertolongan ketika ia membutuhkan-NYA. Intinya ia kemudian menyalahkan Allah sebagai penyebab kegagalan bisnisnya. Menyalahkan Allah karena Allah tidak mau memberikan pertolonganNYA, tidak mau memberikan kemudahan dan kesuksesan bisnisnya.
“Kenapa Allah seolah-olah tidak mau memberikan kesuksesan pada diriku”, kata orang tersebut. Padahal aku telah berusaha mendekatkan diri kepada NYA, aku telah beribadah semaksimal mungkin, aku telah melakukan sholat Tahajud di tengah malam, aku telah berdoa berulang kali, memohon kepada NYA agar sukses dalam bisnis yang sedang dijalankanya. Kenapa Allah tidak mencatat semua itu sebagai kebaikan, sehingga dalam bisnis ini Allah tidak pernah memberikan pertolongannya, begitu ungkapnya.
Padalah seandainya saja Allah menolongku niscaya aku tidak akan mengalami kerugian, tidak mengalami kesulitan seperti sekarang ini, begitu lanjutnya. Sekarang aku tidak akan percaya lagi kepada Allah, bahkan ia mengatakan, “Allah tidak menepati janjinya”.
Dalam kasus diatas, orang tersebut telah berputus asa terhadap Allah, ia telah menganggap Allah tidak pernah menolongnya dan anggapan lainnya.
Benarkah Allah Tidak Menolong Kita ?.
Mari kita lihat diri kita sendiri…
Apakah selama ini kita telah mengenal Allah, ?
Apakah Allah yang kita prasangkakan itu benar-benar Dzat Allah Yang Maha Segala Maha.?
Dan apakah kita telah benar-benar memohon kepada Dzat Allah yang memiliki nama dan sifat yang sempurna?
Dan apakah masih ada KeRagu-Raguan dalam diri kita meskipun sedikit saja, terhadap Allah?
Untuk mengenal Allah, kita harus memahami bahwa Allah adalah nama Dzat yang Maha Sempurna, yang hakekat Dzat NYA tidak dapat di cerna melalui panca indera. Dzat Alloh memiliki Nama dan Sifat yang Maha Sempurna yang tercermin dalam segala Makhluk CiptaanNYA (Af’alulloh).
Salah satu nama Alloh adalah Ar-Rohman (Yang Maha Pengasih) yang juga sekaligus salah satu Sifat Allah Kasih Sayang tercermin dalam setiap MaklukNYA. Allah selalu memberikan RahmatNYA kepada seluruh makhluk ciptaanNYA tanpa pandang bulu, tidak ada diskriminasi, semua adil merata, mendapat Rahmat Allah.
Nah timbul pertanyaan dalam diri kita, apakah selama ini kita pernah menvisualisasikan keberadaan Allah. Ataukah… pernahkan kita merasa bahwa Allah berada di suatu tempat tertentu yg sangat mulia.? Atau Pernahkah kita memproyeksikan Nama dan Sifat-NYA?
Atau Dalam berdoa kita bersandar kepada Nama dan Sifat Allah?
Jika jawabanya Ya, semua itu pernah saya lakukan.. Dapat dipastikan kita telah salah…mengenal Allah. Mengapa ? Karena Nama dan Sifat Allah tidaklah sama dengan Dzat Allah. Yg harus kita Sembah dan dijadikan tempat meminta adalah Dzat Allah yang Maha Segala Maha. Yang tidak bisa di proyeksikan melalui panca indera. Hanya bisa dirasakan dalam Qolbu (hati paling kecil). ArRahman adalah nama sekaligus sifat Allah. Tapi ArRahman bukanlah Dzat Allah, hanya bagian dari sifat-sifat dan nama Allah.
Jadi kalo kita berdoa bukan kepada Dzat Allah, pantas saja doa kita tidak cepat dikabulkanNYA.
Selain itu apakah dalam diri kita masih ada keragu-raguan terhadap Dzat Allah yang Maha Segala Maha yang meliputi Asma-AsmaNYA dan Sifat-SifatNYA dan tercermin pada seluruh hasil CiptaanNYA baik yang ada di dunia maupun di akhirat.
Allah itu Maha Sempurna (subhanallah) meliputi seluruh firman-firmanNYA. Allah tidak pernah mengingkari janji-janjinya. Sungguh mustahil kalau Allah beringkar janji.
Friman Allah, “Mintalah kepada Ku niscaya akan Aku Kabulkan “. Terkabulnya suatu doa salah satunya juga ditentukan oleh ketiadaan rasa Ragu-ragu dalam diri orang yang berdoa. Intinya orang yang berdoa harus meyakini seribu persen bahwa doanya pasti akan dikabulkan. Firman Allah, “Sesungguhnya AKU ini dekat, lebih dekat dari urat Leher”. “Jadi apapun yang tersembunyi didalam hati ataupun yang terucap, Sudah dapat dipastikan Allah itu Mengetahui”
Jadi Kesimpulannya kenapa orang berputus asa terhadap Rahmat Allah? Karena orang tersebut Memiliki Keragu-raguan dalam dirinya sendiri. Keraguan ini menimbulkan rasa kekawatiran dan ketakutan dalam dirinya sendiri. Ketakutan untuk menghadapi Kenyataan yang ada. Andai saja Ia mau berpikir jernih sedikit saja, berfikir tentang Rahmat Allah yang selalu terbuka untuk setiap makluknya, niscaya rasa putus asa itu tentu tidak akan pernah ada. Hanya ada satu kata untuk bisa tetap tegar menghadapi Kenyataan yang ada, yaitu dengan YAKIN Sepenuhnya Terhadap Allah, Dzat yang Maha Segala Maha. “Sesungguhnya Tuhanmu tidak membecimu dan tidak pula meninggalkanmu”
Wallohua’lam bishowab